Minggu, 07 November 2010

Jalan Orchard

Kota ini telah jinak. Bahkan burung-burung tak pernah menganggap kita asing. Mereka mematuk kelingking kita dengan manja, membuka paruhnya seolah berkata, kami mahluk yang bebas.
Sedangkan kita masih meraba, kemana langkah dibawa. Kita tak mengerti peta, jalan bertangkai dimana-mana. Bagaimana kalau kita tersesat atau dilukai orang. Sudahkah kita paham, seperti apa kebebasan itu dan sampai kapan mengejarnya, aku tidak bisa menerka.
Mestinya banyak yang perlu dicatat dari sekedar perjalanan melihat-lihat, menatap kagum dan membeli suvenir. Adakah yang merangkumnya dalam suatu cita-cita untuk dibawa pulang?

Singapura, 2010

Mencintai Rahib

Hanya cicak yang tahu, ia berdecak genap,tertawa atas cinta yang begitu ganjil. Kutepis dirimu dengan gurau persahabatan, namun ketika malam begitu liar bayanganmu hinggap seperti gagak yang lapar.
Suatu waktu kau bercerita tentang angin yang menyamar, menghantam dari delapan juru. Lingkaran tanpa henti, dimana tubuh hanyalah pinjaman dari masa-masa. Tak ada yang abadi, bahkan cinta sekalipun. Kau seperti dewa, aku telah persembahkan diriku, sadar atau tiada.
Aku tanyakan padamu malam itu, mengapa waktu begitu lama mempertemukan kita. Kau hanya tersenyum, tanpa jawaban yang tepat. Entah, kita ingat atau tidak, kita hanya yakin, dulu kita pernah berpasangan. Itulah kesimpulannya.
Kini kucoba mengerti hatimu telah terhidang diatas altar, bersama deretan cawan air suci dan lampu minyak. Umurmu kini untuk doa-doa setiap pagi dan senja hari. Kau duduk membujur mengerucutkan tangan menjadi padma-padma dan tenggelam dalam sunyata.
Aku akan coba untuk mengerti karena tak ada cinta yang begitu salah...

Sabtu, 06 November 2010

O, Jangan lama-lama mencinta

Sayangku, jangan lama-lama mencinta:
Demikian lama aku mencinta
hingga ditinggalkan jaman
sebagaimana lagu-lagu tua

Sepanjang masa muda kita
tak pernah tahu dan peduli
pikiran mereka dan lain-lainnya
kita begitu utuh, menyeluruh

Namun, O, sesaat ia berubah
O, jangan lama-lama mencinta
atau kau akan ditinggalkan jaman
seperti lagu-lagu tua

(W.B. YEATS)

W.B. Yeats (1865-1939) adalah salah satu figur penyair terkemuka pada abad 20 dan tidak diragukan lagi Ia adalah penyair terbesar Irlandia yang pernah ada. Tercatat sebagai pemenang Nobel Sastra pada tahun 1923.
Puisi inilah yang membuat saya mendadak jatuh cinta pada Yeats dan mencoba mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia. Tidak begitu istimewa memang namun di kedalaman hati saya, paling tidak inilah saya tangkap dari lautan puisi Yeats yang dalam. Yeats jatuh cinta pada usia 40 tahun setelah mengalami patah hati kepada cintanya yang terdahulu. Apakah karena ia masih dihantui cinta masa lalu dan mengabaikan dirinya selama bertahun-tahun sampai akhirnya bertemu dengan cinta baru? Ternyata cinta bisa datang kapan saja. Puisinya akan tetap di kenang seperti halnya lagu-lagu tua.

Jumat, 05 November 2010

Amlapura

Orang-orang telah pergi dari kota ini. Semuanya pergi ke laut mencari harta karun. Malam bercakap-cakap dengan gedung-gedung tua jalan Gajah mada. Mengenang lahar yang kini jalanan sungai. Di trotoar, para pemuda yang tersisa duduk melingkar. Mereka mabuk dan bernyanyi tentang kegagalan cinta dan kehidupan.
Kotaku kecil dan semua saling mengenal. Kami saling menyapa dengan tata krama tertinggi,saling menyanjung dan memuji.Tanyakanlah tentang kota pada si tukang sapu. Meskipun kabarnya tak selalu baru, pipit-pipit pagi itulah sumbernya. Dokar telah siap di tepi jalan. Kudanya gagah tak kalah rupawan dengan sang kusir setengah baya. Derap kaki kuda mengetuk kepala penumpang, sudahkah lengkap hidup ini?
Fajar mengintip dari balik akasia yang berbaris di pematang jalan Surapati. Anak- remaja sekolah menengah berjalan beriringan. Membahas tugas dan harap kealpaan guru-guru untuk membahasnya. Bunga-bunga akasia menjadi saksi, cinta pertamaku menggandengku malu-malu. Kami melangkah perlahan agar tak segera sampai di rumah. Aku tak pernah tahu, percintaan kami berlangsung begitu singkat.
Kotaku sunyi menjelang sembilan malam. Para gadis sudah kembali ke sarang dan belajar.kami tak tahu benar wajah malam. Indahkah? Liarkah? Cinta begitu jauh dan keberhasilan hidup adalah yang pertama ditempuh. Betapa rumit menjadi wanita kota ini dan kami bangga akan itu.
Kota ini tak pernah memaksa mereka untuk kembali. Sawah dan ladang kering menunggu, begitu pula hati kekasih yang retak. Mungkin nanti para Ibu jera melahirkan bayi-bayi, karena semua pada akhirnya kembali kepada sunyi.

Kamis, 04 November 2010

Serupa Daun Kering

Serupa daun kering di kemarau panjang
Angin kadang kencang kadang lembut
Menerbangkan aku bersama debu-debu
Hingga terdampar di gelombang rambutmu

Sirami aku dengan air anggur dan sebait puisi
Yang kupuja dari tubuhmu
Maka ku kan lawan angin kepulangan
Biarkan aku menghiasi rambutmu

Angin masih timur, laut masih pasang
Musim pun masih gugur
Jadilah aku serupa daun kering
Menunggu mati

(Ayu Winastri)

Pacar Senja

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja
yang masih megap-megap oleh ciuman senja.
“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium
menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.
Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak
dalam gemuruh ombak.

(Joko Pinurbo)

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)

Nelayan Tunggal

untuk Asrul

awan-awan yang mengagumkan
melewati bulan yang sudah biasanya
demikian: -- ditinggalkan sendirian –

sambil menangkap pandang-pandang penuh
serkumpul dalam jaring malam benderang
pandang jenuh oleh dahaga hampa

bulan, bila dunia telah sunyi
tak ada manusianya lagi, untuk siapa
kemilau tubuh langsat diusap awan

awan pun mulau minggir, kau terjerat
antara ranting, tergelincir, dan tenggelam
oleh nelayan tertangkap, bersama ikan
putih-putih dihela ke darat

pantai telah bersih, nelayan hendak pulang
segera, tak ada yang tertinggal lagi
o ya bulan, dengan gerak ramah (hampir
tertinggal menggelepar) dipungut,
dilempar kembali

(Toeti Heraty)

Stanza

Ada burung dua, jantan dan betina
hinggap di dahan.
Ada daun dua, tidak jantan tidak betina
gugur dari dahan.
Ada angin dan kapuk gugur, dua-dua sudah tua
pergi ke selatan.
Ada burung, daun, kapuk, angin, dan mungkin juga debu
mengendap dalam nyanyiku.

(Rendra)

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

(Chairil Anwar)