Kota ini telah jinak. Bahkan burung-burung tak pernah menganggap kita asing. Mereka mematuk kelingking kita dengan manja, membuka paruhnya seolah berkata, kami mahluk yang bebas.
Sedangkan kita masih meraba, kemana langkah dibawa. Kita tak mengerti peta, jalan bertangkai dimana-mana. Bagaimana kalau kita tersesat atau dilukai orang. Sudahkah kita paham, seperti apa kebebasan itu dan sampai kapan mengejarnya, aku tidak bisa menerka.
Mestinya banyak yang perlu dicatat dari sekedar perjalanan melihat-lihat, menatap kagum dan membeli suvenir. Adakah yang merangkumnya dalam suatu cita-cita untuk dibawa pulang?
Singapura, 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar