Jumat, 08 Juli 2016

Rumah Kecil Tengah Sawah

pernah kukatakan padamu,
bersama pipit-pipit kecil
kukumpulkan ranting-ranting
dan daun-daun pisang basah
kubangun rumah kecil di tengah sawah

pagi-pagi,
wangi padi,aroma sekam,bunga-bunga belukar semerbak
di air pematang segar,kita basuh kaki
dengan sapi-sapi dan angsa-angsa
kita gembalakan hari

cintaku,masihkah ada sedikit saja celah
untukmembangun rumah kecil tengah sawah
meskipun kita hidup di belantara baja
;ramai dan sesak


(April 2010)

Rabu, 27 April 2016

Pulang

Tadi pagi mood saya tidak begitu bagus. Sebab utamanya adalah bangun siang, sebab pendukungnya adalah pas ngaca ternyata ada bekas bantal sprei di wajah. Bikin saya kelihatan tambah tua. Kau tahu, ketuaan itu adalah salah satu derita manusia? Kita menua, sementara dunia begitu-begitu saja.

 Tapi ketika saya membaca sebuah blog, lalu saya buka halaman si blogger itu, lalu, saya menemukan nama saya di pojok kiri, eh, kanan (Maklum, dyslexic). Blog ini belum mati, masih ada catatan di sini. Betapa bahagianya saya. Betapa tidak, beberapa blog saya buat, selang seberapa waktu saya tinggalkan karena sebab yang tidak jelas. Hari ini begitu berbeda, saya merasa seperti menemukan catatan kelahiran yang hilang.

 Eh, mbok ayu (Sekarang kerap dipanggil Mbok Dek) kemana aja selama ini?

 Saya sibuk bekerja. Saya tahu jawaban ini sangatlah mainstream, seolah mencari alasan dan tidak masuk akal. Tapi begitulah yang terjadi. Saya bekerja, dan sibuk bersosialiasi. Saking sibuknya dengan segala kegiatan tersebut, saya lupa diri saya. Saya lupa cara menulis, kata-kata hanya singgah, tak mau menetap di kepala saya, seperti cinta satu malam. Saya menyesal.

 Lalu, apa rencana saya?

 Saya ingin kembali. Pulang ke kata-kata, berumah di kata-kata. Menjalin asmara lagi dengan kata-kata. Saya ingin menjadi ibu dari kata-kata. Bukanlah segalanya berawal dari kata-kata.
Kata. Kata. Kata. Kata.


AW

Rabu, 20 Juli 2011

Catatan dari Kampung

Aku bertemu kerabat dekat tempo hari. Biasanya aku paling malas bertemu dengan sanak keluarga, malas dengan basa-basi dan cerita tak berguna. Barangkali keenggananku itu karena kerabat-kerabat dekat biasanya datang pada saat upacara tertentu. Sehingga kadang-kadang pertanyaan mereka akan hidupku tiada hentinya. Namun kali ini aku mensyukurinya.

Aku bertemu Suci, sepupu dan teman sepermainanku. Hal yang paling aku ingat dari Suci adalah rambutnya yang lebat,lurus dan hitam. Tidak seperti rambutku yang keriting.Kami hampir tiap hari mandi bersama. Meramu 'shampoo' dari daun waru dan santan. Aku sangat mendambakan rambut seindah Suci. Kupikir semua orang menyukai rambutnya.
Kini Suci sudah menikah. Dengan salah satu keluarga nenek yang juga tetangganya. Hanya berselat 'pagar' yang terbuat dari daun kelapa, Cenik, nama pemuda yang melamar suci. Mungkin tak ada yang tahu mereka berpacaran. Tiba-tiba Suci hamil dan ternyata Cenik adalah si Ayah. Hal seperti ini lumrah di desaku. Tetangga mengawini tetangganya tanpa ada yang tahu kapan mereka berpacaran.
Suci terlihat lelah namun bahagia. Si bayi baru berusia 4 bulan. Laki-laki dan sangat lucu. Ia mewarisi rambut suci yang lebat dan hitam. Berbeda dengan bertahun-tahun silam, rambut suci sedikit menipis. Kini dipotong sebahu saja padahal dulu rambutnya panjang mencapai pinggul.
Suci sangat bangga pada anak laki-lakinya. Kutanya apakah bayinya minum susu formula, Suci menggeleng. Cukup ASI ekslusif saja. "Anakku tak mau minum susu dari dot. Kebetulan susu sedang mahal." Katanya. Tak ada raut kesedihan. Suci menerima apa adanya. Kesederhanaan keluarganya yang hidup dari ladang dan ternak babi. Aku benar-benar takjub.
Iparnya Suci (yg masih juga keluargaku) bernama Made, sedikit menderita keterbelakangan mental. Umurnya sudah lebih dari dua puluh, tapi masih seperti anak kecil kecuali kini Ia merokok dan minum kopi. Kata Ibunya, Ia sangat pintar membuat kopi. Ia menawariku kopi. Aku bukan peminum kopi sejati tapi sekali-kali tak apalah. Dan memang benar, Ia menghitung perbandingan berapa sendok kopi dan gula yang harus dimasukkan ke dalam gelas. Kopinya memang enak.

Aku percaya tak ada orang kota. Kita semua dari kampung, termasuk aku. Aku adalah bagian dari mereka, hanya waktu yang memisahkan kami dan berbagai macam ideologi baru memasuki otakku yang membuatku berbeda. Penuh mimpi. Oya, pernahkah mereka bermimpi? Kupikir setiap orang pasti punya mimpi. Namun mereka tak pernah memaksa untuk terwujud satu-satu. Semua dibikin jadi sesederhana mungkin. Asal sudah bisa makan, semua sudah cukup. Kadang aku merasa harus belajar dari mereka; apalagi kami sama-sama tumbuh dari kesederhanaan.

Ya. Cukup kusimpulkan saja. Jangan pernah lupa kampung halaman dan orang-orangnya. Kota bisa saja mengusirmu pulang tapi kampung halaman tidak.

Jumat, 08 Juli 2011

Gadis Kecil Itu Safira

Rangdu.

Yang kutahu hanya kata itu. Aku tak tahu artinya apa. Katakah atau sebuah nama? Yang jelas, ketika orang bertanya padaku, aku hanya menjawab ' Rangdu...Rangdu..'. Mereka mengira itu namaku. Padahal aku sendiri tak tahu namaku. Barangkali kau tau siapa sebenarnya aku. Mereka bilang aku anak jalanan. Pejalan tanpa alas kaki yang layak. Aku berjalan dan berjalan mengikuti alur jalanan yang terbuka untukku. Entah itu trotoar, sisi kereta api, pesisir pantai bahkan setapak kecil pun. Aku akan berhenti jika aku lapar dan kelelahan. Atau ketika mereka mengusirku pergi.
Favoritku adalah sawah dan ladang. Tak ada yang mengusirku dari sana. Justru pemilik sawah tampak lega aku duduk dan mematung di tengah sawahnya.Burung-burung menyukaiku, mematuk-matuk hidungku sehingga terpaksa aku memekik kesakitan membuat mereka ketakutan. Dan sekali lagi mereka lebih senang aku berteriak-teriak begitu. Karena berteriak-teriak mereka memberiku makan. Kadang jagung bakar atau kalau beruntung aku diberi nasi. Aku senang.
Rangdu..
Tiap mendengar kata itu, aku kesakitan. Kata itu seperti pisau. Mengiris dadaku, menguliti lapisan luar tubuhku. Seperti api yang membakar lukaku. Yang lebih menyakitkan lagi, aku tak tahu mengapa. Aku menangis tanpa sebab. Aku menyiksa diriku tanpa alasan. Orang-orang iba sekaligus ketakutan. Tak ada yang berani menyentuhku. Mereka membiarkan aku tersiksa, terluka dan akhirnya tersungkur kelelahan.

Hanya satu yang mau mendekatiku selain semut, cacing dan lalat.
Namanya Safira. Safira gadis kecil hanya enam tahun umurnya.

" Siapa namamu?" Tanya gadis itu. Senja yang lanjut itu, orang-orang telah bubar setelah menyaksikan penderitaanku. Tiba-tiba Ia muncul dari kemuraman menjunjung bakul yang berisi makanan dan air.
" Nama? Aku.. aku tak punya.."
" Semua orang pasti punya nama. Kalau tidak bagaimana mereka memanggilmu. Paling tidak kau punya satu nama." Katanya dengan suara dengan kecepatan terbang merpati, terdengar begitu manis. Gadis itu mengeluarkan handuk kecil, mengelap lukaku dengan hati-hati. Aku merasa pulih. Aku merasa bahagia.
" Rangdu.. Rangdu..."
" Jadi namamu, Rangdu...?" Dia menatapku dengan matanya yang bulat dan bercahaya. Wajah gadis itu pun bundar dan sungguh lucu. Rambutnya ikal berkilatan dimainkan cahaya senja. Bibirnya mungil dan bergerak-gerak lucu. Gemas aku menatapnya.
"Mungkin..."
" Kau sangat aneh. Tapi, baiklah, akan kupanggil kau Rangdu. Aku suka nama itu."
" Kenapa?" tanyaku, belum habis rasa keherananku karena keberaniannnya. Kemudian keluguannya dan kemanisannya.
" Kedengarannya kuat. Pasti aman kalau main sama kamu."
" Itu tidak benar. Orang-orang tak suka padaku. Aku kan gelandangan." Kataku sambil menatap diriku yang berantakan. Baru aku sadari betapa aku tak terurus dan bau. Bajuku entah kapan kupakai aku tak ingat. Sepatu itu berlubang, berlumpur dan juga kekecilan.Kapan aku terakhir mandi aku juga lupa. Ah, mandi..aku harus mandi.
" Kau hanya perlu mandi. Dan makan." Katanya tertawa cekikikan. " Nah, tersenyumlah kakak..."
Tersenyum? Ah, ya..rupanya aku tersenyum.
" Makasih." Kataku sambil mengusap pipi gadis itu, mengacak rambutnya berponi seperti boneka jepang.
"Sama-sama, Kakak Rangdu..Aku harus pulang. Nanti orang tuaku bingung mencariku. Jangan bilang aku disini, ya."
Aku mengangguk tanda mengerti. Hatiku berdegup kencang, bagaimana kalau ada yang melihat gadis itu kesini. Pasti Ia akan dimarahi dan mereka tidak akan bertemu. Anak yang baik, pikirku. Safira berlari kecil membelah setapak kecil, menghilang di semak-semak. Semoga anak itu baik-baik saja.
Kutinggalkan dangau mencari mata air untuk membersihkan diri lebih lanjut. Entah apa aku siap dengan hari esok setelah kejadian ini. Aku tak tahu, apakah aku akan mengingat diriku lagi seperti sekarang ini. Aku tak tahu.. Aku tak tahu...

Rangdu...
Asap.
Ya. Asap dimana-mana demi menenangkan masyarakat akan bahayanya penyakit yang disebarkan oleh nyamuk itu. Masih aku ingat waktu kecil dulu, ketika orang-orang desa tak begitu paham mengapa mahluk sekecil itu menyebarkan epidemi di pelosok negeri. Aku tak suka baunya. Aku tak suka si penyemprot asap. Ia memakai baju hitam dari latex lengkap dengan masker wajah. Berjalan pelan mengasapi selokan, sampah yang menyatu dengan semak belukar dan genanggan air dari kandang si babi. Hanya dengan mendengar berita dari tetangga saja aku sudah bisa mengendus baunya, suaranya dan bayangannya.
Dari segala asap, hanya asap inilah yang membawaku pada mimpi buruk. Lain dengan teman-temanku yang bergerombol menonton proses pengasapan. Uh, bau. Malamnya aku tak bisa tidur. Sekalinya bermimpi, aku diculik oleh si penyemprot asap itu. Dibawa ke negeri serangga. Dimana nyamuk berkuasa. Aku dijadikan ratu. Menjadi ibu dari telur dan jentik. Mimpi terburuk dalam hidupku.
Aku sempat berpikir jangan-jangan aku memang nyamuk. Badanku kecil dan ringan dibanding dengan teman-teman sepermainanku. Jari-jariku kurus mirip seperti antena nyamuk. Aku pun pintar melompat. Tentu saja tidak, aku bukan nyamuk. Aku adalah manusia. Namun kenapa aku tak suka asap itu?
Setelah bertahun-tahun, aku lupa dengan mimpi berasap itu. Sampai hari ini. Di sebelah kantor tempatku bekerja adalah rumah sakit bertaraf internasional. Mereka rutin mengadakan pengasapan untuk mencegah penyebaran penyakit dari nyamuk. Tiba-tiba aku tak membenci kepulan asap itu. Tak lagi aku membenci si pengasap udara dengan maskernya. Aku mencium wangi. Masa kecilku yang berbunga.

Senin, 04 April 2011

Waktu Tak Henti

Di Januari aku menemukanmu di himpitan kota
February datang begitu gesa
meluluhkannya dalam hujan
hampir aku kehilanganmu di ujung persimpangan

Maret kutahan luka sampai saatnya tiba
untuk saling melempar tanya
April kutemukan cinta
cinta yang mungkin patah nantinya

Akankah,
Mei, Juni dan bulan-bulan berikutnya
kutemukan wajah yang sama
menidurkanku di dadanya

Waktu tak henti
Cintaku tak bertepi

Senin, 28 Maret 2011

Merindukanmu

Ketika merindukanmu

bunga-bunga

bermekaran

2008