Jumat, 08 Juli 2011

Asap.
Ya. Asap dimana-mana demi menenangkan masyarakat akan bahayanya penyakit yang disebarkan oleh nyamuk itu. Masih aku ingat waktu kecil dulu, ketika orang-orang desa tak begitu paham mengapa mahluk sekecil itu menyebarkan epidemi di pelosok negeri. Aku tak suka baunya. Aku tak suka si penyemprot asap. Ia memakai baju hitam dari latex lengkap dengan masker wajah. Berjalan pelan mengasapi selokan, sampah yang menyatu dengan semak belukar dan genanggan air dari kandang si babi. Hanya dengan mendengar berita dari tetangga saja aku sudah bisa mengendus baunya, suaranya dan bayangannya.
Dari segala asap, hanya asap inilah yang membawaku pada mimpi buruk. Lain dengan teman-temanku yang bergerombol menonton proses pengasapan. Uh, bau. Malamnya aku tak bisa tidur. Sekalinya bermimpi, aku diculik oleh si penyemprot asap itu. Dibawa ke negeri serangga. Dimana nyamuk berkuasa. Aku dijadikan ratu. Menjadi ibu dari telur dan jentik. Mimpi terburuk dalam hidupku.
Aku sempat berpikir jangan-jangan aku memang nyamuk. Badanku kecil dan ringan dibanding dengan teman-teman sepermainanku. Jari-jariku kurus mirip seperti antena nyamuk. Aku pun pintar melompat. Tentu saja tidak, aku bukan nyamuk. Aku adalah manusia. Namun kenapa aku tak suka asap itu?
Setelah bertahun-tahun, aku lupa dengan mimpi berasap itu. Sampai hari ini. Di sebelah kantor tempatku bekerja adalah rumah sakit bertaraf internasional. Mereka rutin mengadakan pengasapan untuk mencegah penyebaran penyakit dari nyamuk. Tiba-tiba aku tak membenci kepulan asap itu. Tak lagi aku membenci si pengasap udara dengan maskernya. Aku mencium wangi. Masa kecilku yang berbunga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar