Rangdu.
Yang kutahu hanya kata itu. Aku tak tahu artinya apa. Katakah atau sebuah nama? Yang jelas, ketika orang bertanya padaku, aku hanya menjawab ' Rangdu...Rangdu..'. Mereka mengira itu namaku. Padahal aku sendiri tak tahu namaku. Barangkali kau tau siapa sebenarnya aku. Mereka bilang aku anak jalanan. Pejalan tanpa alas kaki yang layak. Aku berjalan dan berjalan mengikuti alur jalanan yang terbuka untukku. Entah itu trotoar, sisi kereta api, pesisir pantai bahkan setapak kecil pun. Aku akan berhenti jika aku lapar dan kelelahan. Atau ketika mereka mengusirku pergi.
Favoritku adalah sawah dan ladang. Tak ada yang mengusirku dari sana. Justru pemilik sawah tampak lega aku duduk dan mematung di tengah sawahnya.Burung-burung menyukaiku, mematuk-matuk hidungku sehingga terpaksa aku memekik kesakitan membuat mereka ketakutan. Dan sekali lagi mereka lebih senang aku berteriak-teriak begitu. Karena berteriak-teriak mereka memberiku makan. Kadang jagung bakar atau kalau beruntung aku diberi nasi. Aku senang.
Rangdu..
Tiap mendengar kata itu, aku kesakitan. Kata itu seperti pisau. Mengiris dadaku, menguliti lapisan luar tubuhku. Seperti api yang membakar lukaku. Yang lebih menyakitkan lagi, aku tak tahu mengapa. Aku menangis tanpa sebab. Aku menyiksa diriku tanpa alasan. Orang-orang iba sekaligus ketakutan. Tak ada yang berani menyentuhku. Mereka membiarkan aku tersiksa, terluka dan akhirnya tersungkur kelelahan.
Hanya satu yang mau mendekatiku selain semut, cacing dan lalat.
Namanya Safira. Safira gadis kecil hanya enam tahun umurnya.
" Siapa namamu?" Tanya gadis itu. Senja yang lanjut itu, orang-orang telah bubar setelah menyaksikan penderitaanku. Tiba-tiba Ia muncul dari kemuraman menjunjung bakul yang berisi makanan dan air.
" Nama? Aku.. aku tak punya.."
" Semua orang pasti punya nama. Kalau tidak bagaimana mereka memanggilmu. Paling tidak kau punya satu nama." Katanya dengan suara dengan kecepatan terbang merpati, terdengar begitu manis. Gadis itu mengeluarkan handuk kecil, mengelap lukaku dengan hati-hati. Aku merasa pulih. Aku merasa bahagia.
" Rangdu.. Rangdu..."
" Jadi namamu, Rangdu...?" Dia menatapku dengan matanya yang bulat dan bercahaya. Wajah gadis itu pun bundar dan sungguh lucu. Rambutnya ikal berkilatan dimainkan cahaya senja. Bibirnya mungil dan bergerak-gerak lucu. Gemas aku menatapnya.
"Mungkin..."
" Kau sangat aneh. Tapi, baiklah, akan kupanggil kau Rangdu. Aku suka nama itu."
" Kenapa?" tanyaku, belum habis rasa keherananku karena keberaniannnya. Kemudian keluguannya dan kemanisannya.
" Kedengarannya kuat. Pasti aman kalau main sama kamu."
" Itu tidak benar. Orang-orang tak suka padaku. Aku kan gelandangan." Kataku sambil menatap diriku yang berantakan. Baru aku sadari betapa aku tak terurus dan bau. Bajuku entah kapan kupakai aku tak ingat. Sepatu itu berlubang, berlumpur dan juga kekecilan.Kapan aku terakhir mandi aku juga lupa. Ah, mandi..aku harus mandi.
" Kau hanya perlu mandi. Dan makan." Katanya tertawa cekikikan. " Nah, tersenyumlah kakak..."
Tersenyum? Ah, ya..rupanya aku tersenyum.
" Makasih." Kataku sambil mengusap pipi gadis itu, mengacak rambutnya berponi seperti boneka jepang.
"Sama-sama, Kakak Rangdu..Aku harus pulang. Nanti orang tuaku bingung mencariku. Jangan bilang aku disini, ya."
Aku mengangguk tanda mengerti. Hatiku berdegup kencang, bagaimana kalau ada yang melihat gadis itu kesini. Pasti Ia akan dimarahi dan mereka tidak akan bertemu. Anak yang baik, pikirku. Safira berlari kecil membelah setapak kecil, menghilang di semak-semak. Semoga anak itu baik-baik saja.
Kutinggalkan dangau mencari mata air untuk membersihkan diri lebih lanjut. Entah apa aku siap dengan hari esok setelah kejadian ini. Aku tak tahu, apakah aku akan mengingat diriku lagi seperti sekarang ini. Aku tak tahu.. Aku tak tahu...
Rangdu...
Jumat, 08 Juli 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar