Aku bertemu kerabat dekat tempo hari. Biasanya aku paling malas bertemu dengan sanak keluarga, malas dengan basa-basi dan cerita tak berguna. Barangkali keenggananku itu karena kerabat-kerabat dekat biasanya datang pada saat upacara tertentu. Sehingga kadang-kadang pertanyaan mereka akan hidupku tiada hentinya. Namun kali ini aku mensyukurinya.
Aku bertemu Suci, sepupu dan teman sepermainanku. Hal yang paling aku ingat dari Suci adalah rambutnya yang lebat,lurus dan hitam. Tidak seperti rambutku yang keriting.Kami hampir tiap hari mandi bersama. Meramu 'shampoo' dari daun waru dan santan. Aku sangat mendambakan rambut seindah Suci. Kupikir semua orang menyukai rambutnya.
Kini Suci sudah menikah. Dengan salah satu keluarga nenek yang juga tetangganya. Hanya berselat 'pagar' yang terbuat dari daun kelapa, Cenik, nama pemuda yang melamar suci. Mungkin tak ada yang tahu mereka berpacaran. Tiba-tiba Suci hamil dan ternyata Cenik adalah si Ayah. Hal seperti ini lumrah di desaku. Tetangga mengawini tetangganya tanpa ada yang tahu kapan mereka berpacaran.
Suci terlihat lelah namun bahagia. Si bayi baru berusia 4 bulan. Laki-laki dan sangat lucu. Ia mewarisi rambut suci yang lebat dan hitam. Berbeda dengan bertahun-tahun silam, rambut suci sedikit menipis. Kini dipotong sebahu saja padahal dulu rambutnya panjang mencapai pinggul.
Suci sangat bangga pada anak laki-lakinya. Kutanya apakah bayinya minum susu formula, Suci menggeleng. Cukup ASI ekslusif saja. "Anakku tak mau minum susu dari dot. Kebetulan susu sedang mahal." Katanya. Tak ada raut kesedihan. Suci menerima apa adanya. Kesederhanaan keluarganya yang hidup dari ladang dan ternak babi. Aku benar-benar takjub.
Iparnya Suci (yg masih juga keluargaku) bernama Made, sedikit menderita keterbelakangan mental. Umurnya sudah lebih dari dua puluh, tapi masih seperti anak kecil kecuali kini Ia merokok dan minum kopi. Kata Ibunya, Ia sangat pintar membuat kopi. Ia menawariku kopi. Aku bukan peminum kopi sejati tapi sekali-kali tak apalah. Dan memang benar, Ia menghitung perbandingan berapa sendok kopi dan gula yang harus dimasukkan ke dalam gelas. Kopinya memang enak.
Aku percaya tak ada orang kota. Kita semua dari kampung, termasuk aku. Aku adalah bagian dari mereka, hanya waktu yang memisahkan kami dan berbagai macam ideologi baru memasuki otakku yang membuatku berbeda. Penuh mimpi. Oya, pernahkah mereka bermimpi? Kupikir setiap orang pasti punya mimpi. Namun mereka tak pernah memaksa untuk terwujud satu-satu. Semua dibikin jadi sesederhana mungkin. Asal sudah bisa makan, semua sudah cukup. Kadang aku merasa harus belajar dari mereka; apalagi kami sama-sama tumbuh dari kesederhanaan.
Ya. Cukup kusimpulkan saja. Jangan pernah lupa kampung halaman dan orang-orangnya. Kota bisa saja mengusirmu pulang tapi kampung halaman tidak.
Rabu, 20 Juli 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
hmmm... tulisan yang insoiratif..
BalasHapusbenar juga... tidak ada yang namanya orang kota.. kita semua dari kampung. salam kenal.. mohon jangan panggil pak.. panggil saja tiang bli.. heheheh... ^_^
my story : http://bliyanbayem.blogspot.com