Orang-orang telah pergi dari kota ini. Semuanya pergi ke laut mencari harta karun. Malam bercakap-cakap dengan gedung-gedung tua jalan Gajah mada. Mengenang lahar yang kini jalanan sungai. Di trotoar, para pemuda yang tersisa duduk melingkar. Mereka mabuk dan bernyanyi tentang kegagalan cinta dan kehidupan.
Kotaku kecil dan semua saling mengenal. Kami saling menyapa dengan tata krama tertinggi,saling menyanjung dan memuji.Tanyakanlah tentang kota pada si tukang sapu. Meskipun kabarnya tak selalu baru, pipit-pipit pagi itulah sumbernya. Dokar telah siap di tepi jalan. Kudanya gagah tak kalah rupawan dengan sang kusir setengah baya. Derap kaki kuda mengetuk kepala penumpang, sudahkah lengkap hidup ini?
Fajar mengintip dari balik akasia yang berbaris di pematang jalan Surapati. Anak- remaja sekolah menengah berjalan beriringan. Membahas tugas dan harap kealpaan guru-guru untuk membahasnya. Bunga-bunga akasia menjadi saksi, cinta pertamaku menggandengku malu-malu. Kami melangkah perlahan agar tak segera sampai di rumah. Aku tak pernah tahu, percintaan kami berlangsung begitu singkat.
Kotaku sunyi menjelang sembilan malam. Para gadis sudah kembali ke sarang dan belajar.kami tak tahu benar wajah malam. Indahkah? Liarkah? Cinta begitu jauh dan keberhasilan hidup adalah yang pertama ditempuh. Betapa rumit menjadi wanita kota ini dan kami bangga akan itu.
Kota ini tak pernah memaksa mereka untuk kembali. Sawah dan ladang kering menunggu, begitu pula hati kekasih yang retak. Mungkin nanti para Ibu jera melahirkan bayi-bayi, karena semua pada akhirnya kembali kepada sunyi.
Jumat, 05 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Amlapura adalah ibu kota dari Kabupaten Karangasem yang berada di timur pulau Bali. Kota Amlapura tidak begitu besar dibandingkan kota-kota lain di Bali. Di butuhkan waktu 15 menit untuk mengelilingi bidak kota. Dua tahun belakangan ini, kota Amlapura sudah mengalami kemajuan dengan ditambahkannya satu supermarket, tempat yang kini menjadi tongkrongan anak muda dan para orang tua memanjakan cucunya. Kota ini tak bertambah ramai karena pemudanya hampir selalu pergi merantau dan kembali di akhir pekan. Saya tidak tahu apakah di masa mendatang, kota ini akan selalu kesepian. Tapi saya juga tak rela kota yang penduduknya saling menyapa akan digerus kemajuan yang exploitatif. Biarlah kota ini tetap tidur pada jam sembilan malam dan terbangun oleh lidi-lidi tukang sapu.
BalasHapus